Featured Post Today
print this page
Latest Post

Obat Hati

Hati manusia terkadang tidak stabil atau sakit seperti halnya badan. Meskipun berbeda antara sifat maupun obatnya. Apa obat yang bisa dipakai untuk mengobati hati yang sakit? Berikut ini kami sebutkan 8 obatnya. Semoga bermanfaat.
 
Pertama: Al-Qur’an al-Karim.

Allah berfirman, artinya, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Yunus: 57). Dia juga berfirman, artinya, “Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Isra: 82)

Ibnu Qoyyim berkata, “Inti penyakit hati itu adalah syubhat dan nafsu syahwat. Sedangkan al-Qur’an adalah penawar bagi kedua penyakit itu, karena di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan dan argumentasi-argumentasi yang akurat, yang membedakan antara yang haq dengan yang batil, sehingga penyakit syubhat hilang. Penyembuhan al-Qur’an terhadap penyakit nafsu syahwat, karena di dalam al-Qur’an terdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud di dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat.”

Orang yang ingin memperbaiki hatinya hendaknya mengetahui bahwa berobat dengan al-Qur’an itu tidak cukup hanya dengan membaca al-Qur’an saja, tetapi harus memahami, mengambil pelajaran dan mematuhi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an itu sebagai pelipur lara, penawar hati dan penghilang kegundahan dan kegelisahan kami. Amin.
Kedua: Cinta kepada Allah.

Cinta kepada Allah merupakan terapi yang mujarab bagi hati. Cinta seorang hamba kepada Allah akan menjadikan hatinya tunduk kepada-Nya, merasa tenteram tatkala mengingat-Nya, mengorbankan perasaannya demi sang kekasihnya, yaitu Allah. Hatinya senantiasa mengharap kepada yang dicintainya untuk memecahkan problem yang ia hadapi. Ia pun tak putus asa dari kasih sayang-Nya. Ia yakin bahwa yang dicintainya adalah Dzat yang tepat untuk mengadukan berbagai masalah. Ia yakin akan diberikan solusi yang terbaik untuknya. Kecintaan kepada-Nya menyebabkan dapat menikmati manisnya iman yang bersemayam di dalam hati.

Ketiga: Berdzikir atau mengingat Allah.

Ketidaktenteraman hati merupakan hal yang membahayakan. Allah memberikan salah satu obat yang bisa menjadi sarana terapi keadaan hati yang demikian.“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram” demikianlah arti firman Allah dalam QS. ar-Ra’d : 28. Obat ini menjadikan hati seseorang hidup, terhindar dari kekerasan dan kegelapan. Ibnu Qayyim berkata, “Segala sesuatu itu mempunyai penerang, dan sesungguhnya penerang hati itu adalahdzikrullah (mengingat Allah).

Suatu ketika, seorang berkata kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadu kepadamu, hati saya membatu.” Maka beliau menjawab, “Lunakkanlah dengan dzikir, karena tidak ada yang dapat melunakkan kerasnya hati yang sebanding dengan dzikrullah.” maka dari itu Allah di dalam banyak ayat-ayat-Nya menyuruh orang-orang yang beriman agar banyak dan sering berdzikir kepada-Nya. Seperti pada firman-Nya, artinya, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzab: 41). Nabi kita Muhammad selalu berdzikir kepada Allah pada setiap saat, sebagaimana dituturkan oleh istri beliau ‘Aisyah.

Keempat: Taubat nasuha dan banyak beristighfar (minta ampun).

Perhatikanlah sabda Rasulullah, “Sesungguhnya hatiku kadang keruh, maka aku beristighfar dalam satu hari sebanyak seratus kali” (HR. Ahmad)

Dalam hadis ini Nabi menjelaskan bahwa beliau menghilangkan kabut atau kekeruhan hati beliau dengan istighfar, padahal dosa-dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Allah. Bagaimanakah dengan kita yang banyak dosa dan banyak melakukan kemaksiatan? Tidakkah kita lebih membutuhkan istighfar untuk hati kita yang sakit?! Demi Allah, betapa kita semua, sangat membutuhkan istighfar.

Kelima: Banyak berdoa dan permintaan kepada Allah untuk memperbaiki dan membersihkan hati serta memberinya petunjuk.

Berdoa merupakan pintu utama yang agung untuk memperbaiki hati. Allah berfirman, artinya, “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk me- rendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 43).

Teladan kita yang mulia Muhammad sendiri selalu memohon kepada Allah untuk kesucian hatinya, kokoh berjalan di atas kebenaran dan petunjuk. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Ummu Salamah. Ia meriwayatkan bahwa doa Nabi yang sering beliau panjatkan ialah, “wahai Tuhan Pembolak-balik hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu” (HR. at-Tirmidzi)

Keenam: Sering mengingat kehidupan akhirat.

Sesungguhnya kelalaian mengingat akhirat itu adalah penghambat segala kebaikan, kebajikan dan merupakan pemicu setiap malapetaka dan kejahatan. Seseorang yang banyak mengingat akhirat, akan menyadarkan dirinya bahwa kehidupan sebenarnya, yang dia hidup selama-lamanya adalah kehidupan akhirat. Dengan demikian, hatinya lurus dalam mengendalikan jasad. Tindak tanduknya mencerminkan amal nyata yang ia tanam di dunia ini dengan harapan ia akan dapat menuai hasilnya yang baik di akhirat kelak.

Ketujuh: Membaca dan mempelajari sejarah kehidupan orang-orang yang shalih.

Ini pun bisa menjadi salah satu obat bagi hati. Banyak pelajaran tentang teguhnya hati dari hempasan badai kehidupan yang menerjang. Siapa saja yang memperhatikan dan mempelajari kehidupan atau sejarah suatu kaum berdasarkan pengetahuan dan penghayatan, maka niscaya hatinya dihidupkan kembali oleh Allah dan disucikan batinnya. Itulah sejarah dan perjalanan hidup Nabi Muhammad. Sejarah kehidupan beliau merupakan terapi untuk mempertebal iman dan memperbaiki hati.

Kedelapan: Bersahabat dengan orang-orang shalih, bertakwa dan berbuat kebaikan.

Seseorang yang bergaul dengan orang yang bertakwa niscaya tidak celaka. Karena mereka tidak akan mengajak selain kepada kebaikan. Selamatlah hati dari terkontaminasi penyakit-penyakit hati. Sebaliknya, jika Anda bersahabat dengan orang-orang yang tidak shalih, tidak bertakwa dan tidak berbuat kebaikan, niscaya Anda akan celaka. Mereka akan mengajak Anda untuk melakukan berbagai kejelekan yang akan menyebabkan hati Anda menjadi kotor. Allah secara tegas berfirman, artinya, “… dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”(QS. al-Kahfi : 28)

Maka berupayalah untuk bersahabat dengan orang-orang yang shalih.

Demikian 8 obat untuk menyembuhkan penyakit hati. Berusahalah Anda untuk memahami dengan baik dan mengamalkan dengan tekun, karena sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki itu, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan keselamatan dan kesucian hati. Dan tidak ada yang sempurna, yang lebih bahagia, yang lebih baik, dan tidak ada pula yang lebih nikmat daripada kehidupan orang-orang yang berhati bersih juga mulia. Wallahu ‘alam bish shawab (Buletin An-Nur)

(Sumber: Disarikan dari “Shalahul Qulub”, Syaikh Dr. Khalid bin Abdullah al-Mushlih –semoga Allah menjaganya- dengan sedikit gubahan.) - http://www.assunnah-qatar.com
0 comments

Pengaruh Al-Quran Terhadap Orang-Orang Shalih

Manshur bin Ammar melihat seorang pemuda sedang melaksanakan shalat seperti shalatnya orang-orang yang takut, lalu ia memanggil pemuda tersebut, “Hai anak muda! Apakah engkau pernah membaca firman AllahSubhanahu wa Ta’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Tatkala ia mendengar ayat ini, maka ia langsung jatuh pingsan. Ketika telah siuman ia berkata, “Berilah aku tambahan lagi.” Lantas Manshur berkata, “Bukankah engkau tahu bahwa di Neraka Jahannam terdapat jurang yang disebut api yang bergejolak yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama).” Maka, ia pun tidak mampu memikul nasihat ini, lalu ia jatuh dan meninggal dunia.

Selanjutnya dadanya dibuka. Ternyata ditemukan dadanya bertuliskan, “Sesungguhnya dia berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat.”

Manshur melanjutkan ceritanya, “Lalu saya tidur sambil memikirkan kondisi pemuda tersebut. Di dalam tidur, saya melihatnya sedang berjalan dengan lagak yang bagus di dalam surga. Di atas kepalanya terdapat mahkota kehormatan. Kemudian saya bertanya kepadanya, “Dengan apa engkau dapat memperoleh derajat seperti ini?” lalu ia berkata kepadaku, “Bukankah engkau pernah membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. Al-Qamar: 54-55)

Wahai Ibnu Ammar! Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepadaku pahala pasukan Badr, bahkan lebih banyak lagi. Lalu saya bertanya kepadanya, “Mengapa bisa seperti itu?” Ia menjawab, “Karena pasukan Badr gugur dengan pedang orang-orang kafir. Sedangkan saya meninggal dunia dengan pedang Dzat Yang Maha Merajai dan Maha Perkasa, yaitu Alquran Al-Karim.”

Dihikayatkan dari Masruq radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah mendengar seseorang sedang membaca ayat berikut:

“(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Pengasih sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (QS. Maryam: 85-86)

Lantas ia bergetar, menangis, dan berkata kepada orang yang membaca ayat tersebut, “Ulangi lagi untukku!” Maka, ia pun terus-menerus mengulangi ayat tersebut, sementara Marsuq menangis sehingga ia jatuh dan meninggal dunia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya. Ia termasuk orang-orang yang meninggal dunia lantara Alquran.

Manshur bin Ammar berkata, “Saya memasuki kota Kufah. Pada saat saya sedang berjalan di kegelapan malam, tiba-tiba saya mendengar tangisan seseorang dengan suara yang penuh gelisah dari dalam rumah. Orang tersebut berkata, “Wahai Rabbku! Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, saya tidak bermaksud menentang-Mu dengan berbuat maksiat kepada-Mu. Akan tetapi, saya berbuat maksiat karena kebodohanku. Lantas sekarang siapa lagi yang dapat menyelamatkanku dari siksa-Mu? Dengan tali siapa saya berpegang teguh jika Engkau memutus tali-Mu dari diriku. Aduh alangkah banyak dosaku.. Aduh tolonglah… Ya Allah!” Manshur bin Ammar berkata, “Ucapan orang tersebut membuatku menangis, lalu saya berhenti dan membaca ayat berikut:

‘Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.’ (QS. At-Tahrim: 6)

Tiba-tiba saya mendengar teriakan keras dan gemetar lelaki tersebut. Saya pun berhenti hingga suara lelaki itu pun terputus dan saya pun berlalu. Di pagi harinya saya mendatangi rumah lelaki tersebut, ternyata saya mendapatinya telah meninggal dunia dan orang-orang sedang merawat jenazahnya. Di sana terlihat seorang nenek yang sedang menangis, lalu saya menanyakan tentang siapakah perempuan tua tersebut. Ternyata ia adalah ibunya, kemudian saya menghampirinya dan saya bertanya mengenai tingkah laku anaknya, lalu perempuan tua tersebut menjawab, “Dia berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan bekerja mencari rezeki yang halal. Lalu ia membagi tiga hasil dari kerjanya. Sepertiga untuk dirinya sendiri, sepertiga lagi untuk membiayaiku, dan sepertiga lainnya ia sedekahkan. Tadi malam ada seseorang melewatinya sambil membaca suatu ayat, ia pun mendengar ayat tersebut lalu meninggal dunia.”

Diriwayatkan bahwa Mudhar ia adalah seorang qari sedang membaca ayat ini:

(Allah berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya.” (QS. Al-Jatsiyah: 29)

Lantas Abdul Wahid bin Zaid menangis ketika mendengar ayat tersebut sampai pingsan. Ketika telah siuman, ia berkata, “Demi kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu saya tidak akan berbuat maksiat kepada-Mu dengan segenap kemampuanku untuk selamanya. Oleh karena itu, berilah saya pertolongan untuk melakukan ketaatan kepada-Mu dengan pertolongan-Mu.”

Kemudian ia mendengar seseorang membaca ayat berikut:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27-28)

Lalu ia meminta agar si pembaca ayat tersebut mengulangi kembali dan bertanya, “Berapa kali saya mengucapkan irji’i.” Ia pun pingsan lantaran takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan siksa-Nya. Ia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memperbaiki diri setelah itu. Maha benar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berfirman:

“Sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.” (QS. Al-Hayr: 21)

Zirarah bin Auf menjadi iman bagi orang banyak saat shalat Subuh. Tatkala ia membaca ayat:

“Maka apabila sangkakala ditiup, maka itulah hari yang serba sulit.” (QS. Al-Muddatstsir: 8)
Maka, ia terjatuh dalam keadaan telah meninggal dunia. Semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala merahmatinya.

Dan ketika firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini telah diturunkan:

“Dan sungguh, Jahannam itu benar-benar (tempat) yang telah dijanjikan untuk mereka (pengikut setan) semuanya.” (QS. Al-Hijr: 43)

Maka, Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menjerit satu jeritan, lalu ia meletakkan tangan di atas kepalanya dan pergi tak tentu arah selama tiga hari.

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1
0 comments

Menata Ulang Hubungan Kita Dengan Al-Quran

Suatu ketika Abdullah bin Zubair rahimahullaah bertanya pada ibunda beliau tercinta, Asma’ binti Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallaahu’anhuma; perihal keadaan para sahabat Rasulullah dahulu ketika mendengar ayat-ayat Ilahi (al-Qur’an) dibacakan. Maka Asma’ pun menjawab:

تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُوْدُهُمْ كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ

“Air mata mereka bercucuran, dan kulit-kulit mereka gemetar, persis seperti apa yang disifatkan oleh Allah tentang mereka.”

Yang dimaksud oleh Asma’ adalah pujian Allah terhadap para sahabat yang diabadikan dalam al-Qur’an:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء

“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya...” [QS. az-Zumar: 23]

Diriwayatkan bahwasanya ‘Umar bin Khaththab radhiallaahu’anhu di suatu malam pernah mendengar seorang laki-laki membaca ayat dalam tahajjud-nya:

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (7) مَا لَهُ مِنْ دَافِع

“Sungguh adzab Tuhanmu pasti akan terjadi. Tak ada seorang pun yang sanggup mencegahnya.” [QS. ath-Thuur: 7-8]

Maka ‘Umar pun berkata: “Ini adalah sumpah (dari Allah), Demi Rabb Pemilik Ka’bah, adzab tersebut haq (pasti terjadi)”. Lantas beliau kembali ke rumah dan mendadak ditimpa sakit selama sebulan. Orang-orang membesuk beliau tanpa ada yang tahu penyebabnya sakitnya.”

Dalam riwayat lain, ‘Umar pernah membaca Surat Maryam, saat melewati ayat berikut ini:

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Jika dibacakan ayat-ayat ar-Rahman kepada mereka, mereka segera menyungkur sujud dan menangis” [QS. Maryam: 58]

‘Umar pun segera menyungkur sujud, lalu berkata: “Ini dia sujudnya, lalu mana tangisannya?”, beliau ingin sekali bisa menangis (karena ayat tersebut memuji orang-orang yang bersujud dan menangis ketika mendengar ayat Allah dibacakan). [Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir: 2/457]

Abdullah bin Syaddad mengisahkan:

سمعت نشيج عمر بن الخطاب وأنا في آخر الصفوف في صلاة الصبح يقرأ في سورة يوسف: ﴿قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ﴾

“Aku mendengar tangisan ‘Umar bin Khaththab, padahal aku berada di shaf terbelakang, ketika shalat shubuh, saat membaca ayat dalam Surat Yusuf (ayat-86): “Berkata (Ya’qub), aku tidak menampakkan keluh kesah, kedukaan, dan kesedihanku kecuali hanya kepada Allah semata.” [at-Tafsir al-Muyassar: 245]

Pengaruh ayat-ayat Qur’ani yang begitu menghujam di sanubari para sahabat tidak sebatas berujung pada air mata khosy-yah dan bergejolaknya hati yang sesak oleh rasa cinta dan pengagungan pada Rabb, namun lebih dari itu, al-Qur’an seolah bisa dibaca dari mujahadah dan pengorbanan mereka dalam mengamalkan kandungannya.

Renungkanlah kisah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallaahu’anhu, pemegang mahkota kedermawanan di kalangan para sahabat. Beliau memiliki kerabat dekat bernama Misthoh bin Utsaatsah, dia seorang yang fakir, Abu Bakr senantiasa menyantuni dan menafkahi hidupnya. Tatkala terjadi fitnah zina yang disebarkan oleh orang-orang munafik terhadap ‘Aisyah radhiallaahu’anha. Misthoh terbukti ikut andil dalam menggunjing dan menyakiti ‘Aisyah dengan fitnah keji tersebut. Abu Bakr pun kecewa berbaur marah, sampai-sampai beliau bersumpah untuk memutus nafkahnya kepada Misthoh. Namun ketika Allah menurunkan ayat:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. an-Nuur: 22]

Abu Bakr ash-Shiddiq dengan penuh ketaatan segera menyambut ayat tersebut dengan mengatakan:

بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ، وَقَالَ: وَاللَّهِ لاَ أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا

“Ya, Demi Allah, aku sangat menginginkan agar Allah mengampuniku.” (Maka beliau menyambung kembali nafkah beliau kepada Misthoh dan berkata: “Demi Allah aku tidak akan memutus nafkah tersebut darinya sampai kapanpun.” [Shahih Bukhari: 4750, Shahih Muslim: 2770]

Anas bin Malik menuturkan sebuah kisah yang tidak kalah mencengankan, tatkala turun ayat:

لَنْ تَنَالُوا البِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّون

“Kalian tidak akan pernah menggapai surga[1] sampai kalian meng-infaq-kan apa-apa yang kalian cintai.” [QS. Ali ‘Imron: 92]

Tiba-tiba Abu Tholhah al-Anshoriy radhiallaahu’anhu bangkit dihadapan Rasulullah seraya berkata:

إِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ، أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ، فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللَّه

“Sesungguhnya harta yang paling aku sayangi adalah sebidang (kebun luas dengan airnya yang segar di depan Masjid Nabawi bernama-pent) Bairuhaa’. Kebun tersebut aku sedekahkan (semuanya) di jalan Allah. Aku berharap keberkahannya dan ganjarannya di sisi Allah. Maka gunakanlah (sedekah tersebut) sebagaimana yang Allah inginkan melalui dirimu wahai Rasulullah.” [Shahih Bukhari: 1461, Shahih Muslim: 998]

Rasulullah bahkan sampai takjub dengan besarnya pengorbanan harta tersebut, sampai-sampai beliau mengatakan: “Bakhin.., Bakhin...” (ungkapan dalam bahasa arab yang menunjukkan rasa takjub dan terkesima pada suatu perkara yang besar-Ta’liq Fuad Abdul Baqi-Shahih Muslim: 2/693)

Kisah banjirnya madinah dengan air khomr (karena gentong-gentong miras yang dipecahkan dan ditumpahkan) setelah turunnya ayat yang mengharamkan khomr secara total (QS. al-Maa-idah: 90-91), adalah kisah yang menggambarkan betapa tunduknya hati para sahabat pada ayat-ayat Allah. Jangan lupakan kisah para shahabiyyah yang bergegas menyelubungi diri mereka dengan kain-kain yang ada, sesaat setelah mereka mendengar turunnya ayat (QS. an-Nuur: 31) yang mewajibkan khimar (kain penutup) bagi wanita [Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir: 1/546 dan 2/600].

Demikianlah sebagian kecil kisah tentang salaf dan al-Qur’an. Sungguh, tinta sejarah tak akan sanggup menuliskan seluruh kisah fenomenal para salaf dalam hal ketundukan dan kelembutan hati ketika ayat-ayat Qur’ani melintas di hati mereka.

Bagaimana Kita Bisa Seperti Mereka?

Setidaknya ada beberapa faktor kunci yang menjadikan para sahabat mampu merasakan kutanya pengaruh ayat-ayat Allah di hati mereka:

Pertama; para sahabat segera menghafalkan ayat-ayat yang turun kepada Nabi, dan itu terjadi secara berangsur-angsur, setahap demi setahap. Inilah yang patut kita tiru, menghafal al-Qur’an sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Kedua; melakukan tadabbur dan tafakkur. Para sahabat benar-benar memahami dan merasakan makna sesungguhnya dari ayat-ayat yang mereka dengar dan baca. Karena al-Qur’an turun dalam bahasa mereka, bahasa Arab yang fasih dan murni, yang bertengger di puncak keindahan serta kekuatan ungkapan. Maka untuk bisa merasakan apa yang mereka (salafush shalih) rasakan ketika mendengar ayat-ayat Allah, penguasaan bahasa Arab adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Ditambah lagi dengan tafsiran yang mereka pelajari langsung dari Rasulullah, melalui hadits-hadits dan praktek sunnah beliau sehari-hari. Inilah fase inti yang kedua, yaitu fase ilmu[2]. Di sinilah awal mula datangnya barokah al-Qur’an. 
 
Karena Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Yang diwahyukan kepadamu ini wahai Rasul adalah) Kitab yang telah Kami turunkan kepadamu yang penuh keberkahan, agar mereka mentadabburi (memikirkan dan mengamalkan petunjuk) ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal bisa mengambil pelajaran.” [QS. Shaad: 29]

Asy-Syaikh Kholid bin Abdillah al-Mushlih mengungkapkan isyarat lembut di balik ayat tersebut, bahwa:

ليحصل لهم التدبر ولا سبيل لتحصيل بركة الكتاب إلا بهذا

“(al-Qur’an diturunkan) agar makna-maknanya ditadabburi, dan tidak ada jalan untuk meraih barokah al-Qur’an kecuali dengan tadabbur.”

Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu’anhu pernah berkata:

لاَ تَنْثُرُوْهُ نَثْرَ الدَّقَلِ وَلاَ تَهُذُّوْهُ هَذَّ الشِّعْرِ قِفُوْا عِنْدَ عَجَائِبِهِ وَحَرِّكُوْا بِهِ الْقُلُوْبَ

“Janganlah kalian membaca al-Qur’an layaknya kurma yang rontok dan berhamburan, jangan kalian membaca al-Qur’an seperti kalian membaca sya’ir (tergesa-tergesa, sehingga kalian tidak bisa meresapi maknanya-pent), berhentilah sejenak (demi menghayati) keajaiban-keajaibannya, dan gerakkanlah hati kalian dengannya.”

Ketiga; para sahabat mempelajari al-Qur’an, memahami tafsirnya yang haq, bahkan berulang-ulang membaca satu ayat agar bisa mentadabburinya, tujuan utama mereka adalah; agar bisa mengamalkan kandungan ayat dengan sebenar-benarnya, sesuai keinginan Allah yang menurunkan ayat tersebut.

Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu’anhu mengatakan:

كَانَ الرَّجُلُ مِنَّا إذَا تَعَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزْهُنَّ حَتَّى يَعْرِفَ مَعَانِيَهُنَّ وَالْعَمَلَ بِهِنَّ

“Dahulu di seseorang antara kami, jika tengah mempelajari sepuluh ayat, maka ia tidak lewat dari sepuluh ayat tersebut sampai ia benar-benar memahami maknanya dan beramal dengan kandungannya.”

Kesimpulannya, para sahabat mampu merasakan kedahsyatan al-Qur’an di hati-hati mereka dan mampu menciptakan perubahan (bahkan bagi peradaban), karena mereka melalui tiga fase yang tidak terpisahkan; menghafal, mengilmui, dan mengamalkan. Betapa banyak di antara kita yang menghafal ayat-ayat pendek, namun tidak pernah terlintas dalam benak kita untuk mempelajari kandungannya, lalu bagaimana mungkin mengamalkannya?. Seolah al-Qur’an hanya sekedar karya artistik kaligrafi dan hanya hiburan layaknya musik di telinga. Wajar jika tangisan sholat malam tidak mampu melewati pagar masjid. Di luar masjid, kita kembali pada kebiasaan lama, tenggelam dalam maksiat dan perkara sia-sia. (Di susun oleh Redaksi al-Hujjah)
0 comments

Sepuluh Menit Menghafal Al-Quran

Anda ingin menghafal Al-Qur’an? Tapi banyak kesibukan,sehingga tidak punya waktu untuk menghafal? Insyaallah dengan metode sederhana di bawah ini anda dapat menghafal sehari minimal satu halaman. Ya, satu halaman.

1. Sehabis shalat Shubuh,luangkan sepuluh menit untuk menghafal apa yang bisa dihafal(insyaallah dalam waktu tersebut anda bisa menghafal tiga baris,sebagaimana diketahui bahwasanya satu halaman itu terdiri dari 15 baris).

2. Sehabis shalat zhuhur,luangkan sepuluh menit untuk menghafal.

3. Sehabis shalat ashar,maghrib dan isya lakukan hal yang sama.Insyaallah,dengan begitu anda telah menghafal satu halaman penuh.
“Ingat! cuma dengan meluangkan waktu sepuluh menit setiap habis shalat.Maka,anda akan dapat menghafal satu halaman penuh,lalu bagaimana lagi, jika anda meluangkan waktu anda lebih banyak lagi?”

4. Luangkan waktu sepuluh menit setelah shalat witir Kenapa setelah shalat witir?Karena waktu tersebut adalah waktu yang sangat bagus untuk mengulangi hafalan dan lebih membuat kita bisa mentadabburi Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”.[surah muzzammil ayat 6]

5. Luangkan waktu anda satu jam dalam satu minggu untuk mengulang-ulang hafalan yang telah anda hafal dalam satu minggu ini. Insyaallah,dengan menerapkan metode sederhana ini (tentunya dengan selalu mengikhlaskan niat kita) bi idznillah dalam sepuluh hari anda telah menghafal setengah juz dari Al-qur’an. 

(Sumber: http://www.3llamteen.com)
0 comments

Berapa Hari Untuk Menghafal Al-Quran?

Berapa hari kah waktu yang bisa anda gunakan untuk menghafal al -Qur’an?

Jika anda menghapal 1 ayat saja dalam sehari, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 17 tahun, 7 bulan dan 9 hari
Jika anda menghapal 2 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 8 tahun, 9 bulan dan  18 hari
Jika anda menghapal 3 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 5 tahun, 10 bulan dan 13 hari
Jika anda menghapal 4 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 4 tahun, 4 bulan dan 24 hari
Jika anda menghapal 5 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 3 tahun , 6 bulan dan 7 hari
Jika anda menghapal 6 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 2 tahun, 11 bulan dan 4 hari
Jika anda menghapal 7 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 2 tahun, 6 bulan dan  3 hari
Jika anda menghapal 8 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 2 tahun, 2 bulan dan 12 hari
Jika anda menghapal 9 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 1 tahun , 11bulan  dan 12 hari
Jika anda menghapal 10 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 1 tahun, 9 bulan dan 3 hari
Jika anda menghapal 11 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 1 tahun , 7 bulan dan 6 hari
Jika anda menghapal 12 ayat , maka anda akan hapal al- qur’an dalam 1 tahun, 5 bulan dan 15 hari
Jika anda menghapal 13 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 1 tahun , 4 bulan dan 6 hari
Jika anda menghapal 14 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 1 tahun dan 3 bulan
Jika anda menghapal 15 ayat, maka anda akan hapal al- qur’an dalam 1 tahun, 2 bulan dan 1 hari
0 comments

Meluruskan 10 Mitos Seputar Menghafal Al-Quran

Setiap orang yang mau menghafal al-Quran pasti akan dihantui mitos (keyakinan tak berdasar), sebelum melangkah. Mitos tersebut kadang berdampak pada melemahnya motivasi atau harapan yang berlebihan usai hafal al-Quran nantinya. Sering terjadi, ketika anak minta izin pada orangtuanya untuk mulai menghafal al-Quran, orang tua melarang atau tidak merestuinya akibat perspektif yang salah tentang dunia hafalan.

Jadi mitos itu bisa meruntuhkan mental diri sendiri dan juga mampu meruntuhkan mental orang lain. Kedua dampak tersebut sama-sama merugikan mereka yang akan menghafal. Anehnya, mitos tersebut justru muncul dari orang yang belum memiliki pengalaman menghafal sama sekali. Dengan kata lain, mereka telah menyesatkan orang lain akibat ketidaktahuan mereka.  Berikut ini mitos-mitos yang harus diluruskan. Mitos-mitos tersebut adalah:

1. Menghafal itu banyak cobaan dan godaan

Konon, cobaan orang yang menghafal al-Quran itu banyak, seperti mengidap penyakit, gangguan lingkungan, musibah keluarga. Sebenarnya sering sekali orang yang sedang menghafalkan al-Quran itu jatuh sakit, tetapi itu lebih diakibatkan faktor eksternal. Mungkin saja kurang olahraga, sedikit gerak, makan tidak teratur menjadi penyebabnya. Jadi, jangan dikaitkan penyakit yang menimpa dengan proses menghafal.

Bila terpaksa kita harus mencari-cari korelasi antara penyakit dengan hafalan, maka akan terjadi lompatan berpikir dan rekayasa logika yang panjang. Misalnya: “Orang yang menghafal menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk. Duduk dalam jangka waktu lama akan mengendapkan lemak dan melambatkan sirkulasi darah. Darah yang terhambat berdampak pada lemahnya fungsi syaraf dan motorik organ. Lemahnya fungsi syaraf mengakibatkan konsentrasi berkurang dan sering pusing. Pusing dalam kurun waktu lama akan mengakibatkan instabilitas kinerja organ lainnya. Inilah yang disebut sakit.” Jika logika itu yang dipakai, maka aktifitas apapun berpotensi datangnya penyakit.

Tak kalah dahsyatnya, konon penghafal al-Quran itu selalu mendapat godaan dari lawan jenis dan maksiat lainnya, terutama saat menghafal surat an-Nisa (wanita). Ini juga mitos yang sama sekali tak berdasar. Pengalaman banyak penghafal al-Quran ternyata tidak mengalami kejadian itu. Seandainya fakta itu ada, kemungkinan besar orang yang bersangkutan telah membawa benih-benih asmara itu sebelum mulai menghafal. Akibatnya, kejenuhan menghafal atau akumulasi keteledoran menjadikannya mencari selingan aktifitas lain sebagai pelarian dan pelampiasan. Menyatukan dua fokus (bercinta dengan menghafal) jelas sangat sulit dan memunculkan masalah baru, yaitu asmara amburadul, hafalan juga hancur. Semakin amburadul, semakin seseorang mencari pelampiasan yang lebih dalam lagi.

2. Jangan menghafal, kalau lupa, dosanya besar

Konon pengahafal al-Quran itu dosanya besar, bila melupakan ayat yang pernah dihafalnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dari Anas bin Malik:

وَعُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي، فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنَ القُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا

Saya diperlihatkan dosa umatku, maka saya tidak melihat dosa yang lebih besar dibanding dengan surat dan ayat dari al-Quran yang dihafal oleh seseorang lalu ia melupakannya.

Hadis ini menurut al-Albani tergolong dlaif, sehingga dia tidak bisa dijadikan pegangan untuk landasan hukum (halal dan haram). Meski demikian, hadis tersebut masih dapat digunakan untuk motivasi kebaikan (fadlail a’mal). Hadis ini ditujukan tidak hanya pada mereka yang hafal 30 juz saja, tetapi mereka yang hafal satu surat pendek pun, bahkan satu ayatpun kena, apabila pada akhirnya hafalan tersebut dilupakan. Dahulu ketika masih belajar di TPQ atau MI, MTs begitu banyak pelajar yang hafalan ayat atau surat, sebagai persyaratan kelulusan atau penunjang nilai, bila kini ternyata hafalan itu banyak yang menguap (tidak hafal lagi), ia juga menjadi sasaran (khitab) dari hadis tersebut.

Hanya saja, persoalannya tidak sesederhana itu. Lupa telah menjadi ciri dari makhluk Allah yang bernama manusia. Pertanyaan adalah lupa yang seperti apa yang dianggap dosa besar itu? Adakalanya lupa disengaja, adakalanya juga tidak disengaja. Disengaja artinya melakukan suatu kecerobohan/kesembronoan secara sadar lalu berdampak pada hilangnya ayat/surat dari al-Quran. Tidak disengaja artinya segala upaya untuk melanggengkan hafalan telah dilakukan secara kontinyu, namun masih ada saja huruf yang kurang, kata yang tak terbaca atau bahkan terlewatinya satu ayat al-Quran tanpa ada kesengajaan. Jelas kesalahan karena faktor ketidaksengajaan itu akan diampuni oleh Allah, karena di luar kekuatan manusia. Mustahil dijumpai di dunia ini, selain Rasulullah, orang yang menghafal 30 juz tanpa salah/lupa sama sekali. Sementara orang yang sembrono, mungkin dalam waktu sekian bulan tidak memurajaah hafalannya, jelas ini sama halnya menghina Allah. Sang pencipta telah memberi karunia agung berupa hafal al-Quran, lalu karunia itu diterlantarkan. Jadi subtansi masalahnya bukan pada lupanya tapi pada kecerobohannya itu.

Ada logika yang kurang benar pada kata: jangan menghafal, nanti khawatir lupa. Mestinya dibalik: menghafallah agar selalu ingat. Begitu sulitnya kita memurajaah sekian banyak ayat dan surat yang berserakan (sesuai hafalan acak sejak masa kecil dulu). Sementara itu, dengan menghafal keseluruhan, semua ayat yang berserak akan terhimpun teratur dan tertib dari awal hingga akhir dan termurajaah secara rutin. Ungkapan: jangan menghafal, hakikatnya adalah perasaan pesimis kalah yang ditularkan kepada orang lain, sebelum peperangan sungguh-sungguh dimulai. Bisa jadi, orang yang dilarang menghafal itu punya potensi besar menghafal cepat dan bagus, sehingga melarang orang lain menghafal hakikatnya mengkebiri hak orang untuk sukses menjalani kehidupan dunia dan akherat.

Semestinya anjuran menghafal atau tidak menghafal harus datang dari kyai atau ustadz yang sukses menghafal dan memahami persis psikologi menghafal, bukan kyai atau ustadz yang belum pernah atau gagal menghafal. Ibarat dokter, semakin ia kompeten dan memiliki gelar spesialis, semakin ia punya kewenangan untuk mengidentifikasi penyakit tertentu dan memberi resep, serta pasien juga tidak merasa was-was ketika ditangani dokter tersebut.

3. Menghafal itu butuh waktu lama

Konon proses menghafal itu butuh waktu yang sangat lama, betulkah? Sering pertanyaan seputar durasi waktu menghafalkan seperti ini muncul. Ternyata jawaban dari pertanyaan tersebut sangat bervariasi mulai dari yang super cepat (kurang dari 10 bulan) sampai yang paling lambat di atas 10 tahun, bahkan tidak jarang berakhir dengan kegagalan. Jika jawabannya bervariasi, maka tidak bisa diklaim bahwa menghafal itu pasti memakan waktu lama.

Animo masyarakat muslim terutama di perkotaan untuk menghafal al-Quran kian besar dan tak terbendung, sementara pada saat yang sama mereka dihadapkan pada tuntutan hidup faktual (bekerja, menikah, membesarkan anak, meniti karir, melanjutkan studi, berorganisasi). Lagi-lagi, persoalan yang muncul adalah cukupkah dalam waktu terbatas (1 tahun, 2 tahun dst) semua keinginan itu berjalan simultan.

Memang benar, menghafal al-Quran termasuk kategori Extra Ordinary Memorization (EOM), proyek menghafal yang luar biasa banyaknya, sekitar 600 (full) halaman dengan ratusan kata yang mirip dan ratusan kata non Arab di dalamnya. Dibutuhkan kolaborasi antara psikis, fisik, transeden yang kokoh untuk melakukannya. Ketenangan psikis dibutuhkan agar kerja otak untuk proses menghafal tidak terganggu, fokus dan stabil dalam jangka waktu yang panjang. Fisik yang sehat ikut juga berkontribusi menjaga stabilitas psikis, kinerja mekanis tubuh. Menggerakkan mulut untuk membaca, tangan membuka mushaf dibutuhkan kinerja mekanis tubuh yang sehat. Peran transendental (keyakinan/keimanan), meski kerja di belakang layar, adalah mengatur harmoni psikis dan fisik sekaligus mensupplay tenaga yang maha dahsyat. Seringkali aspek transedental ini mendominasi dan mengambil alih peran psikis dan fisik. Contoh banyak sekali orang buta yang hafal al-Quran, tidak jarang orang yang berbaring sakit sukses menghafal.

Pengalaman membuktikan bahwa perencanaan yang baik dalam menghafal dapat mempercepat tuntasnya hafalan. Tak terhitung jumlahnya para santri tahfidz di Indonesia yang hafal al-Quran kurang dari satu tahun, bahkan di Saudi Arabia ada seorang perempuan yang menyelesaikan hafalan 30 dalam waktu satu bulan. Jadi, menghafal itu tidak harus lama, ia bisa cepat asalkan diorganisir sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan antara murajaah hafalan baru dan lama, terjadi efektifitas pemanfaatan waktu 24 jam dalam sehari semalam.

4. Menghafal itu membuat pikiran tumpul dan lemah dalam pemahaman

Konon penghafal al-Quran itu kecerdasannya berkurang. Mereka tidak mampu menguasai kitab kuning, jadi sarjana dll. Mitos tersebut hanya berlaku bagi mereka yang menjadikan hafalan sebagai ghayah (tujuan) bukan wasilah (media/jembatan). Hafalan sebagai tujuan artinya ketika tujuan itu tercapai maka berhentilah segala upaya yang terkait menghafal. Bagi mereka yang penting adalah lancar membaca dan banyak undangan acara khatmil Quran, sehingga tidak ada lagi upaya untuk mendalami bacaan (ilmu qiraat), mempelajari isi kandungannya (tafsir), menggali hukum yang ada di dalamnya (ayatul ahkam), atau mengkaitkan ayata-ayat al-Quran dengan ilmu pengetahuan lain (munasabah). Penghafal seperti ini jelas kehilangan harapan untuk menggali khazanah ilmu al-Quran sehingga kecerdasan otak dan akal menjadi tumpul dan tak terasah. Apa yang ia baca laksana mantra yang hebat meski tak memahami isinya.

Berbeda dengan mereka yang menjadikan hafalan sebagai wasilah saja. Tujuan utama menghafal bagi mereka adalah menguasai sumber hukum Islam, menjadikan al-Quran sebagai sumber inspirasi sekaligus pedoman hidup. Kelompok ini tergolong kelompok mayoritas. Hampir semua ulama besar di Timur Tengah hafal al-Quran. Ini jelas berbeda dengan di Indonesia. Seakan di sini ada dikotomi, ulama al-Quran dan ulama kitab kuning. Juga ada asumsi bahwa ulama al-Quran kurang kompeten dalam menguasai kitab kuning, sebaliknya juga demikian ulama kitab kuning dianggap tidak ada yang hafal al-Quran.

Menurut Abdud Daim al-Kaheel, orang yang hafal al-Quran itu pasti otaknya lebih cerdas dan intelegensinya meningkat. Ia sendiri menceritakan bisa menjadi cerdas akibat menghafal al-Quran.Proses menghafal hakikatnya proses pengasahan otak dalam waktu yang sangat lama. Otak yang telah terasah ini jelas menjadi lebih cerdas dari sebelumnya.

5. Penghafal al-Quran itu malas bekerja

Karena ada kekhawatiran hafalannya hilang, umumnya penghafal al-Quran fokus dalam setiap waktunya untuk murajaah, sehingga tidak ada waktu untuk bekerja. Kadang tradisi terbiasa tidak bekerja itu terbawa sampai masa tua, selalu merasa canggung untuk bekerja kasar, sehingga terbentuk opini bahwa penghafal al-Quran itu priyayi, dan priyayi itu minta dihormati dan enggan melakukan pekerjaan berat atau kasar. Betulkah demikian?

Jelas mitos di atas tidak benar meski pada kenyataannya sebagian kecil masih ada yang seperti itu. Nama besar seorang “penghafal al-Quran” kadang membuat silau diri sendiri. Kesilauan itu akhirnya membebani diri sendiri secara berlebihan. Beberapa pesantren tahfidz di Indonesia sudah banyak yang menerapkan kurikulum tertentu untuk merubah mindset negatif tersebut dan berupaya menetralisir tabiat “gede rumongso” di kalangan para santrinya. Sebagai contoh: alm. KH. Mustain Syamsuri (pendiri PP. Tahfidz Darul Quran Singosari Malang) melatih santrinya untuk berwirausaha dengan cara memperkerjakan mereka sebagai tukang bangunan, penjual snack keliling, sopir angkot dan sebagainya seusai setoran al-Quran di pagi hari. Dari aspek penampilan, para santri diminta untuk tidak mengenakan simbol kesantriannya (kopiyah, sarung, sorban, baju koko) ketika mereka sedang bekerja. Dari kurikulum interpreneurship tersebut, lahir para alumni yang tidak canggung bekerja kasar dan keras dalam segala bidang kehidupan. Di antara mereka ada penjual rokok keliling, juru parkir, makelar mobil, dosen, guru dan lain. KH. Mustain pernah berpesan: “Hafalan al-Quran itu bukan sumber maisyah (ekonomi), ia semata karunia tuhan dan hanya dipersembahkan untuk-Nya. Ketika bermuamalah dengan orang lain, lupakan status “penghafal al-Quran” itu bergaullah seperti umumnya orang dari aspek acara bicara, cara berpakaian, cara bekerja.”

Jadi penghafal al-Quran itu mestinya memiliki etos kerja tinggi, pekerja keras. Lalu apa dengan bekerja itu tidak mengganggu murajaah harian mereka? Seperti halnya dzikir, murajaah al-Quran -sesuai ayat al-Quran- itu bisa dilaksanakan dalam kondisi berdiri, duduk maupun berbaring. Penghafal al-Quran harus pandai-pandai cari tempat atau cari waktu untuk murajaah yang sama sekali tidak mengganggu aktifitas kerja maupun muamalah. Dengan demikian, hafalan al-Quran itu tidak menghalangi orang sedikitpun untuk menjadi orang sukses melalui aktifitas kerja harian.

6. Membaca dengan hafalan itu mereduksi pahala mata (untuk melihat tulisan mushaf)

Konon pengahafal al-Quran itu pahalanya lebih sedikit dibanding pembaca al-Quran dengan mushaf, karena tidak seluruh anggota tubuh ikut aktif pada proses membaca. Padahal, masing-masing peran dari organ tubuh dalam membaca al-Quran itu mendatangkan pahala sendiri-sendiri. Mata melihat mushaf ada pahalanya, telinga mendengar ada pahalanya dan mulut melantunkan ayat juga ada pahalanya.

Memang benar Imam Ghazali dan Qadli Husein (tokoh pada madzhab Syafi’I) berpendapat tentang hal yang sama dengan penjelasan di atas bahwa membaca mushaf itu lebih afdal daripada membaca hafalan. Tetapi yang perlu juga dipahami, kalau melihat mushaf saja pahala, bagaimana dengan proses penyimpanan dan reproduksi memori al-Quran melalui otak, apa peran otak tidak ada pahalanya? Menurut Imam Nawawi dalam kitabnya “at-Tibyan” keutamaan membaca mushaf daripada membaca hafalan itu terjadi manakala dari aspek kekhusyuan, perenungan makna itu sama baiknya. Berarti kalau dengan membaca hafalan itu seseorang semakin khusu’ dan mampu mentadabburi daripada membaca mushaf, maka membaca hafalan lebih afdal, demikian juga sebaliknya.

Dari aspek lain, setiap huruf al-Quran yang dibaca bernilai sepuluh kebaikan. Jadi semakin banyak ayat dibaca, semakin banyak pula pahala yang didapat. Hanya umumnya penghafal al-Quran frekwensinya baca al-Quran-nya relatif lebih banyak dibanding dengan mereka yang tidak hafal. Sebetulnya tidak ada larangan seorang penghafal itu membaca mushaf, sebagaimana tidak ada keharaman pembaca mushaf untuk menghafal al-Quran. Keduanya tidak saling bertentangan, bila bosan menghafal, ya membaca, Jika bosan membaca, ya menghafal, begitu seterusnya.

7. Penghafal al-Quran itu bacaanya tidak bagus (kurang tartil)

Konon penghafal al-Quran itu tidak ada yang membaca secara tartil, karena terbiasa baca cepat dan mempercepat putaran 30 juz dalam beberapa hari saja. Pernyataan tersebut benar bila tidak digeneralisir. Yakni, memang ada yang demikian, namun ada juga yang bacaannya bagus, murottal sebagaimana ditunjukkan oleh para imam masjid di Mekkah dan Madinah. Di Indonesia, para peserta MHQ (musabaqah hifdzil quran) umumnya memiliki hafalan dan bacaan yang bagus dan murottal.

Bila ukuran penilaian itu dari acara khataman di kampung-kampung, jelas ini tidak fair karena hanya kasuistik dan temporer. Motivasi membaca cepat (hadr) semata memenuhi tuntutan pengundang agar khatam 30 juz dalam waktu maksimal 10 jam (3 juz perjam). Guru besar ilmu qiraat di IIQ Jakarta pernah berpesan: baca cepat itu boleh asal tidak seringa, hanya sebatas “tombo kangen” (pelepas dahaga kerinduan).

Dalam tingkatan bacaan (maratib al-Qiraah), diperbolehkan baca cepat asalkan masih sesuai kaidah tajwid, inilah yang disebut dengan tingkatan hadr. Artinya cepat atau lambat itu diperbolekan bila terbalut dengan prasyarat yang bernama tartil (segala bacaan yang sesuai kaidah). Imam Ali bin Abi Thalib berkata: tartil itu memperbaiki bacaan huruf dan mengetahui tempat wakaf. Kecepatan membaca yang di luar batas wajar (hadzramah) bagaimanapun juga tidak diperkenankan dalam membaca al-Quran, inilah yang menurut Imam Nawawi termasuk bacaan yang diharamkan.

8. Menjaga hafalan itu lebih berat dari menghafal awal

Konon menghafal itu lebih mudah daripada menjaganya. Sebagian orang termasuk para orangtua tidak mengizinkan anaknya atau familinya untuk menghafal al-Quran dengan dalih menjaga hafalan itu berat, bahkan lebih berat dari menghafal itu sendiri. Mitos ini bisa menjadi virus mematikan bagi siapa saja akan menghafal. Virus ini lebih mengedepankan pesimis daripada optimisnya. Anehnya virus ini lebih sering dihembuskan oleh orang yang belum pernah menghafal, dia hanya memandang dari kejauhan dan silau sebelum mendekat.

Padahal begitu masifnya penghafal al-Quran yang merasakan manisnya madu berdzikir al-Quran, sejuknya dekapan untaian al-Quran. Ibarat makanan, delapan jam saja kita tidak mengkosumsinya, tubuh terasa lemah, rindu dan ingin mendekat. Demikian halnya, bagi penghafal al-Quran sehari saja bibir mereka tidak basah dengan nada al-Quran, terasa sangat lapar dan dahaga. Ia bagai oase di tengah panasnya cuaca padang pasir, mampu menyejukkan hati yang gundah serta menyegarkan pikiran yang galau.
9. Sebelum menghafal itu wajib izin pada orang tua/guru

Konon sebelum menghafal al-Quran itu wajib minta restu orang tua/guru, agar mendapatkan ridlo Allah. Mitos ini mengandung unsur benar dan juga sekaligus salah. Unsur benarnya adalah orang tua merasa dihargai dengan permohonan izin tersebut dan restu mereka menjadikan langkah anak semakin mantab, serta doa orang tua/guru memberikan sumbangan energi dahsyat pada kesuksesan anak/murid. Unsur salahnya adalah bila segala bentuk kebaikan itu harus minta izin orang tua, maka begitu beratnya tugas anak. Seringkali ketidaktahuan orang tua tentang hal ikhwal hafalan, mematahkan asa anak untuk menghafal.

Semua orang tua/guru ingin anaknya/muridnya bahagia dalam belajar (dengan makan cukup, tidur nyenyak, ibadah nyaman), sementara menghafal itu proses berat dan melelahkan, sehingga kadang orang tua/guru tidak mengizinkan anaknya/muridnya menghafal. Hindarilah pertanyaan yang apabila dijawab justru kita berat melaksanakannya, itu pesan al-Quran. Anak yang minta izin, kemudian orang tua tidak mengizinkan, tidak etis anak menentang keputusan orang tua. Kekhawatiran terbesar dari mitos keharusan izin ini adalah hilangnya motivasi diri anak/murid untuk menghafal, padahal motivasi ini harta berharga yang sulit dicari dan susah ditumbuhkan kembali ketika memudar dan tenggelam.
Solusi terbaik adalah jalan tengah, seorang anak sebaiknya jangan minta izin, tetapi minta saran, itupun bila dipandang orang tua/guru tersebut memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai tentang seluk beluk menghafal al-Quran.

10. Penghafal al-Quran itu layak dihormati

Konon orang yang hafal al-Quran itu kemanapun selalu dihormati orang lain, disanjung dan dipuja. Seakan rizkinya mengalir deras tanpa kerja berat. Mitos ini menjadi pemicu motivasi banyak orang untuk menghafal al-Quran. Hal ini dilatarbelakangi oleh pengamatan dari orang yang bersangkutan kepada seorang tokoh yang dihormati dan kebetulan hafal al-Quran. Sah-sah saja motivasi awal menghafal seperti itu, namun sebaiknya dalam perjalanan selanjutnya mitos tersebut sedikit demi sedikit harus dirubah.

Ada beberapa alasan kenapa harus dirubah, yaitu: (1) menuntut ilmu dan ibadah harus dilandasi keikhlasan semata karena Allah, (2) adalah hak orang lain untuk menilai apakah kita layak atau tidak untuk dimuliakan, (3) harapan yang berlebihan dapat mengakibatkan shock berat (stress), bila tidak tercapai, (4) tidak semua orang yang menghafal itu tuntas 30 juz, dan tidak semua yang tuntas itu berkualitas bagus dan lancar, kualitas hafalan yang bagus dan lancar, tidak serta merta mendapatkan pujian atau sanjungan.

Fokus penghafal al-Quran harus diarahkan untuk ta’abbud dan taqarrub pada Allah, serta menyelami dalam dan luasnya samudara ilmu Allah melalui al-Quran. Dapat cercaan tidak emosi dan terus introspeksi, dapat pujian tetap rendah hati. Berharaplah pujian dan kemuliaan langsung dari pemilik al-Quran yaitu Allah swt.Wallahu a’lamu bis shawab. 

(Oleh : Syafaat - Malang, 1 Oktober 2012, 00.30) http://cahayaqurani.wordpress.com)
0 comments

Ebook : Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-quran - Imam Nawawi

Bagi sahabat-sahabat muslim yang sedang berjuang menjadi hambaNya yang senantiasa ingin dekat dan selalu berusaha berada dalam dekapan kasih sayangNya.

Berinteraksi dengan Al-quran adalah salah satu jalan kita mengenal dan memahami bagaimana indahNya bahasa-bahasa kasih sayang Alloh swt kepada kita hambaNya.

Semua aktifitas itu tentu haruslah kita sertai dengan kecukupan ilmu tentangnya.

Ebook : Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-quran karya Imam Nawawi ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana kita untuk menambah kekayaan wawasan kita sebagai muslim,terutama pemahaman kita akan Al-quran.

Keseluruhan isi ebook ini terangkum dalam 9 bab ,diantaranya :

    KEUTAMAAN MEMBACA DAN MENGKAJI AL-QUR’AN
    KELEBIHAN ORANG YANG MEMBACA AL-QUR’AN
    MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN GOLONGAN ALQUR’AN
    PANDUAN MENGAJAR DAN BELAJAR AL-QUR’AN
    PANDUAN MENGHAFAZ AL-QUR’AN
    ADAB DAN ETIKA MEMBACA AL-QUR’AN
    ADAB BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN
    AYAT DAN SURAT YANG DIUTAMAKAN MEMBACANYA
    PADA WAKTU-WAKTU TERTENTU
    RIWAYAT PENULISAN MUSHAF AL-QUR’AN


Bagi sahabat yang berkenan memilikinya bisa di download dilink download dibawah ini :

http://dc346.4shared.com/download/ymlfl58o/imam_nawawi_-_keutamaan_membac.pdf?tsid=20130423-020716-f9b636a
0 comments
 
Support : Syamil Azkiya | Jang Syamil | J. Saifulmillah
Copyright © 2013. Salma Qurani - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger